Cara Main Mobile Legends yang Benar untuk Pemula

Mobile Legends merupakan game MOBA untuk mobile game terhebat yang lumayan diminati oleh banyak kalangan di Indonesia. Berbeda dengan game FPS maupun Battle Royale, genre MOBA tergolong tak terlalu banyak dan rumit dalam perihal gameplay. Oleh karena itu tak jarang lagi apabila tidak sedikit pula pemain baru yang mau mengerti gimana cara ataupun trik di dalam bermain Mobile Legends yang baik dan benar.

Buat Anda yang baru ingin memulai atau sebelumnya kadang belum sempat mempertunjukkan games Mobile Legends ini, kami bakal memberitahukan pada Anda beberapa trik dan cara keluaran togel online dalam bermain Mobile Legends yang benar buat pemula. Supaya Kamu tidak terkena blaming dari teman dalam satu tim Anda bahkan hingga dibilang Noob! Kan keren bila Anda bisa dengan segera sampai ke Rank Legend/Mythic.

Strategi Bermain Mobile Legends dengan baik dan benar

1. Siapkan smartphone dan koneksi internet yang mendukung
Hal yang utama pastinya Kalian harus punya ponsel dan juga koneksi internet yang dapat mendukung Anda supaya mampu memainkan games Mobile Legends ini dengan betul. Pertama Anda diharuskan lakukan yaitu memastikan ponsel kesayangan Kalian bisa mempunyai koneksi internet Kalian memadai ketika Kalian melangsungkan permaianan game mobile ini. Bila dua hal itu tak mendukung, maka itu bakal menjadi hambatan nantinya ketika Kalian bermain.

2. Dapat menguasai Mekanik Hero
Berikutnya yang mesti Anda siapkan disini merupakan bisa menguasai mekanik hero, di dalam hal ini Kamu tak mesti menguasai segalanya tapi Kalian mampu memulai dengan satu hero terlebih dulu kemudian Anda dapat mempelajari hero lain buat sanggup menguasainya.

Selain itu, Role juga sebagai hal utama yang mesti Kalian mengerti, karena setiap role nantinya mempunyai hero dan juga cara main yang berbeda.

Selanjutnya satu diantara tantangan para pemain baru adalah tak mengetahui, apa hero terbaik untuk dimanfaatkan sesuai dengan role dan gaya main mereka. Untuk itu, Kamu sanggup mencobanya dengan mempelajari permainan dan skill hero Mobile Legends di dalam mode game Custom.

Tapi terdapat beberapa hero Mobile Legends yang direkomendasikan buat para pemula antara lain: Tigreal, Zilong, Eudora, Miya, Nana, Saber dan Layla.

3. Menentukan Build Item Hero
Selepas menentukan role dan juga hero yang mau dicoba, setelah itu Kamu harus mengatur build item buat hero tersebut. Buat pemula Anda dapat mengikuti Rekomendasi build item hero terbaik yang disediakan di menu Set Top Player.

Eittsss tidak itu saja, Kamu pun harus mengerti fungsi dari item-item itu. Hal ini harus Kamu lakukan supaya build yang Anda bangun maka makin fleksibel pantas dengan keadaan pertandingan nantinya.

4. Upgrade Emblem
Teknik selanjutnya dari GGWP.ID jika Kalian ingin main Mobile Legends dengan benar ialah lakukanlah upgrade emblem. Setiap Emblem tentu juga punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Saat ini pengguna emblem lebih menyesuaikan dengan build apa yang ingin Kalian bangun atupun manfaatkan.

Contohnya emblem Tank tak cuma sesuai buat hero-hero bertipe Tank, tapi juga sanggup dipakai oleh hero Marksman atau Fighter yang dapat jadi Roamer seperti Popol dan Kuppa dan Jawhead.

5. Tentukan Battle Spell
Menentukan battle spell adalah sesuatu yang amat penting untuk pemain Mobile Legends di dalam sebuah pertandingan. Spell-spell ini umumnya Kamu sesuaikan dengan kompetensi dan kekurangan hero yang dipilih.

Misalnya jika Kalian memilih hero marksman yang tak mempunyai escape ability yang bagus jadi Kamu bisa menggunakan spell Flicker maupun Sprint. Setiap pemain bisa menggunakan 1 dari 12 battle spell yang ada.

6. Baca Mini Map
Selanjutnya adalah membaca mini map. Dalam mode classic dan rank arena turnamen dibagi sebagai 3 jalur. Kamu harus memperhatikan mini map yang tersedia di sebelah kiri atas untuk dapat mendapatkan berbagai informasi secara cepat, mulai perkiraan lokasi musuh, tempat lord ataupun turtle, permintaan pertolongan dari teman dan masih banyak lagi.

Kekhilafan yang teramat kerap diusahakan para pemain pemula adalah cuma berdiam di satu jalur ketika teman yang lainnya sedang open war. Saat teman Kalian butuh bantuan maka Anda mesti membantunya apabila memungkinkan, sebab suguhan ini memiliki 3 jalur yang harus Kamu lindungi.

7. Leveling/Farming
Cara bermain Mobile Legends yang betul selanjutnya ialah leveling/farming. Setiap role juga punya cara farming yang berbeda. Jungler/Core harus melaksanakan farming di area buff dan jungle.

Sedangkan Marksman atau Hero late game yang lain mampu memanfaatkan gold lane untuk farming. Untuk Hero Tank dan Fighter sedikit lebih fleksibel, Kalian dapat memilih farming di EXP lane atau roaming menolong teman yang lain.

Makin jauh perbedaan level Kamu dari lawan, jadi akan makin mudah juga Kalian buat membunuhnya.

8. Dahulukan Objektif Pertunjukkan
Banyak player pemula yang makin mengutamakan untuk membunuh musuh daripada menghancurkan tower, istilahnya mukil. Sedangkan objektif dari game MOBA adalah merobohkan markas musuh tidak kill terbesar.

Bertambah cepat Kamu mampu menghancurkan tower, jadi makin baik. Dengan tower musuh yang hancur Kalian juga mempersempit ruang gerak mereka. Jangan pernah menyia-nyiakan peluang, seranglah tower musuh di saat Kalian miliki kesempatan.

Itulah teknik cara bermain Mobile Legends yang benar untuk pemula. Semoga tips ini dapat menolong Anda main lebih baik lagi.

Audition Ayo Dance di Indonesia

Ayo Dance – Bagi para pemain permainan ini pastinya tidak heran lagi buat mereka, sajian ini tumbuh cepat sejak tahun 2000an. Di dalam era tersebut, tidak sedikit pilihan permainan yang mulai muncul di Indonesia salah satunya ialah Audition Ayo Dance http://roulettee.online.

Permainan ini berawal dari Korea Selatan dan diluncurkan dalam tahun 2007 yang diluncurkan dan dikelola oleh Megaxus lalu di alihkan ke Indonesia. Ayo dance yaitu game yang bertajuk pertunjukkan tari yang pada era itu cukup merebut perhatian dan interes bagi pecinta game di Indonesia.

Audition Ayo Dance di Indonesia

Game ini pun dibentuk dalam mode handphone dan juga komputer, sertifikat ini memiliki versi mobile tersendiri yang dikelola sama goPlay dan diberi nama Au Mobile – Audition Indonesia.

Di dalam versi mobile sendiri, memiliki beberapa mode opsi pertunjukkan yang dapat kamu mainkan di Ayo dance indonesia. Yaitu:
1. Mode Classic.
Ini ialah mode dengan tingkat level amat gampang dan cocok dimainkan oleh para pemula, di mode classic para player cukup menekan tombol kanan dan kiri sesuai perintah yang dikasih sama game tersebut.
2. Mode Dance Up.
Mode ini adalah mode lanjut dari sajian classic dari versi mobile. Dalam mode ini, player dituntut makin aktif buat menekan tombol ke kanan dan ke kiri dan swipe dan juga tap cocok dengan pola dance up.
3. Mode Bubble.
Mode Bubble adalah mode advance yang adalah mode tersulit dari jenis mode sebelumnya. Pada mode bubble, player tak diperintahkan untuk melaksanakan swipe dan tap saja tapi kamu hanya dikasih bubble di layar.

Tutorial Main Ayo Dance

Untuk anda para pemula, ini merupakan beberapa cara buat bisa main Ayo Dance Audition:
1. Login
2. Masuk ke menu dan segera menyeleksi Server dan Channel. Namun apabila indikator player di Channel sudah penuh oleh warna Merah, itu artinya Channel itu sudah penuh.
3. Masuk ke Audition Ayo Dance Town.
4. Lalu, Kamu akan diarahkan ke NPC Tutorial.
5. Masuk ke Dancing Hall.
6. Seleksi room ataupun create room.
7. Have Fun dan Selamat Bermain.

Manfaat Bermain Ayo Dance Audition

Tersedia beberapa keguanaan buat kalian ketika main game Ayo Dance Audition, yaitu:
1. Menyegakan Otak Kita.
2. Memberikan beberapa gambaran mengenai style busana.
3. Berlatih kurang lebih koregrafi di dalam tarian.
4. Mendapat dan medapati teman baru.
5. Memperoleh pengetahuan mengenai musik.

Itu ialah kurang lebih gambaran mengenai game ayo dance audition di indonesia yang dikembangkan oleh Megaxus.

PRODUITS DÉRIVÉS DE BRITNEY SPEARS

Un grand nombre de produits ont été élaborés et approuvés par l’artiste américaine Britney Spears. Ceux-ci comprenant des livres, jeux vidéo, poupées, vêtements (en conjonction avec ses tournées), des parfums et autres produits.

Spears sort en 2004 son premier parfum, Curious, en collaboration avec Elizabeth Arden. En cinq semaines de ventes, la chanteuse empoche 100 millions de dollars. En septembre 2005, Britney Spears publie avec Elizabeth Arden le parfum Fantasy, qui connait également un grand succès. Curious est nommé comme le parfum le plus vendu de l’année 2004, et l’un des meilleurs parfums vendus au monde. En octobre 2008, Curious s’est vendu à plus de 650 millions de flacons, Britney Spears faisant des recettes à hauteur de 610 millions de dollars. En avril 2006, Britney Spears lance Curious In Control, un parfum en édition limitée. 2006 voit aussi la sortie d’un autre parfum, Midnight Fantasy. Le 24 septembre 2007 marque la date de sortie d’une nouvelle fragrance, Believe, son cinquième parfum en trois ans. Spears sort son sixième parfum sixième, Curious Heart, en janvier 2008. Il s’est écoulé jusqu’ici vendu à plus de 35 millions de bouteilles. Spears engendre plus de un milliard de dollars provenant de la vente de parfums, et en a vendu plus de 850 millions de bouteilles dans le monde. En décembre 2008, Britney Spears réalise deux parfums concordant avec la sortie de son sixième album studio Circus. Le 21 mai 2009, il est annoncé sur le site officiel de la chanteuse qu’elle est numéro un en matière de lignes de parfums de célébrités vendues sur le marché. Ses parfums avec Elisabeth Arden représentent 34 % des ventes de parfums de célébrités. Le 15 août 2009, selon le site officiel de Spears, il est indiqué que Curious s’est vu décerné un Glammy Award pour le « Meilleur Achat Beauté de 2009 » (Best Beauty Buy of 2009) et pour sa quatrième année consécutive, Curious remporte un Glammy pour Best Drugstore Fragrance.

Britney Spears a affronté d’autres célébrités sur le marché cosmétique telles que Céline Dion, Jennifer Lopez, P. Diddy, Paris Hilton ou encore Hilary Duff et est parvenue à s’imposer en numéro un sur le marché des parfums de célébrités avec des ventes mondiales atteignant un milliard et des revenus brut de deux milliards de dollars aux États-Unis.

Curious

Slogan : « Do you dare? »

Slogan : « Everybody has one »

Curious In Control

Slogan : « Are you? »

Slogan : « Magic Begins at Midnight. »

Believe

Slogan : « The greatest freedom is to believe in yourself. »

Slogan : « Live yours to the fullest. »

Slogan : « What do you have to hide? »

Slogan : « Do you make it hot? »

Slogan : « Choose you own destiny »

Slogan : « Be the brightest star in the universe »

Slogan : « Choose Your Fantasy »

Slogan : « What’s your island fantasy? »

Slogan : « 10 Hugs & 10 Kisses, xoxo – Britney »

Slogan : « It’s your private show. »

Slogan : Aucun

Slogan : « It’s your #VIPSHOW. »

Slogan : « Experience summer in a bottle. »

En 1999, Play Along Toys sort la poupée Britney Spears. C’est le premier produit publié par cette société de jouets. La poupée représente Spears avec différentes tenues, le maquillage et les coiffures de ses concerts, apparitions, photoshoots et vidéoclips. Yaboom Toys a également fait une poupée Britney Spears qui chante lorsque vous appuyez sur un bouton sur son ventre. Une poupée de porcelaine a également été réalisée, ainsi que des poupées miniatures.

Britney’s Dance Beat est un jeu vidéo (de un à deux joueurs) mettant en vedette des chansons et apparitions vidéos de Britney Spears. Les joueurs doivent passer des auditions pour faire partie des danseurs de Spears en tournée.

Le gameplay implique d’appuyer sur des boutons en étant synchronisé avec la musique. Les symboles des touches sont disposées en un cercle, qui ressemble à un cadran d’horloge. Un pointeur balaie autour du cadran, indiquant à quel moment appuyer sur chaque bouton.

Le jeu contient cinq chansons, …Baby One More TimeOops!… I Did It AgainStrongerOverprotected et I’m a Slave 4 U. Les parties réussies sont récompensés par des “passes backstage” qui débloquent des caractéristiques telles que des séquences vidéos de Britney en coulisses.

Le jeu comprend également divers remixes lors des images des coulisses, des menus et des crédits. Il a aussi un photoshoot lors des crédits. Le jeu a été publié sur PlayStation 2, Game Boy Advance et PC.

Un jeu de téléphone portable développé par Qplaze-RME et Sony BMG intitulé « Adventures of Britney Spears » a été annoncé en décembre 2005, mais n’a jamais vu le jour. Des images et vidéos du jeu ont été publiées en même temps que le communiqué de presse annonçant la sortie du jeu.

En mai 2016, un jeu de téléphone portable pour Android et iOS et développé par Glu intitulé “Britney Spears: American Dream” sort en mai 2016. Dans le jeu, on doit créer un personnage “chanteur” et lancer notre carrière musicale avec l’aide de Britney Spears et d’autres personnages.

En mars 2009, Britney est annoncé comme le nouveau visage de Candie’s, une marque de vêtements commercialisés pour les préadolescentes et adolescentes. Après avoir été le visage de la marque pendant deux ans, il est annoncé que Britney Spears concevrait une collection de vêtements en édition limitée pour Candie’s, qui serait dévoilé en milieu d’année. La ligne de vêtements est présentée le 1er juillet 2010 avec des prix allant de 14$ à 78$. Dans une interview avec le site Web InStyle Magazine, Britney Spears annonce que quelques pièces de plus seront vendues en septembre et octobre et qu’elle aimerait concevoir pour la marque à nouveau.

En 2012, Britney Spears collabore avec la société Hasbro pour la sortie d’une version exclusive du jeu Twister, incluant un remix de son titre Till the World Ends. La chanteuse a également participé à une publicité, réalisé par Ray Kay, afin de promouvoir le jeu.

DRECKSAU (ROMAN)

Drecksau (engl. Originaltitel: Filth, wörtlich: „Schmutz“) ist ein Roman des britischen Autors Irvine Welsh.

Der Roman wird aus der Perspektive des fiktiven Edinburgher Polizisten Bruce Robertson erzählt. Dieser ist korrupt, kokain- und alkoholabhängig, und ein Mensch von miserablem Charakter. Seine Machtposition missbraucht er regelmäßig für sexuelle Gewalttaten und für Intrigen gegen seine Kollegen. Er macht sich unter anderem eines Mordes, der Körperverletzung und Vergewaltigung schuldig, zerstört die Ehe eines Kollegen, belästigt dessen Frau und lässt diesen unter falschen Anschuldigungen verhaften. Viele seiner Taten sollen ihm den Weg zu einer Beförderung ebnen; oft ist seine Aggression aber reiner Selbstzweck.

Trotz seiner Intrigen kommt Robertson seinem Ziel nicht näher – seine Lebenssituation gerät immer mehr aus den Fugen, worauf er auf seine Weise mit neuer Gewalt reagiert. Schließlich wird enthüllt, dass Robertsons Kollegen von dem von ihm begangenen rassistischen Mord wussten und ihn die ganze Zeit deckten; mit seiner Aggression gegen sie bereitete er seinen eigenen Untergang vor. Sogar sein Selbstmord am Ende des Romans ist noch eine Attacke gegen die Außenwelt – es bleibt den Überlebenden, mit den Folgen seiner Taten zu leben.

Obwohl der Leser dank der Ich-Perspektive Robertsons schon sehr nah an dessen Innenleben ist, bleibt manches durch Robertsons eingeschränkte Fähigkeit zur Selbstreflexion zunächst unverständlich. Hier bedient sich der Autor eines ungewöhnlichen literarischen Mittels: eingeschoben in die Handlung werden in experimenteller Typographie gestaltete Passagen aus der Perspektive eines Bandwurms, der in Robertsons Verdauungstrakt heranwächst. Anfangs werden bloß dessen Umrisse dargestellt, nach und nach kommen Wörter und Sätze hinzu: der Bandwurm entwickelt ein Bewusstsein und ein mit Robertson verbundenes, aber nicht identisches Ich, das dem seines Wirtes bald deutlich überlegen ist und diesen heftig kritisiert.

SV BLAU-GELB BERLIN

Der SV Blau-Gelb Berlin ist ein deutscher Sportverein aus Berlin. Der 700 Mitglieder starke Mehrspartenverein gliedert sich in die Abteilungen Allgemeinsport, Boxen, Fußball, Gewichtheben, Handball und Hockey. Heimstätte der Fußballabteilung ist das Stadion Rennbahnstraße.

Blau-Gelb Berlin wurde am 12. Mai 1951 als Betriebssportgemeinschaft (BSG) des VEB Tiefbau Berlin (später VEB Tiefbaukombinat Berlin) unter dem Namen BSG Aufbau Weißensee gegründet. 1954 fusionierte Aufbau Weißensee mit der BSG Vorwärts Gosen zur BSG Aufbau/Tiefbau Berlin, drei Jahre später schlossen sich außerdem die BSG Motor Weißensee-Süd sowie die Fußballabteilung des SC Aufbau Berlin an. Da die Mannschaft des SC Aufbau Berlin bereits in der damals viertklassigen Berliner Bezirksliga spielte, konnte Aufbau/Tiefbau Berlin deren Platz übernehmen.

Der 1958 erneut in BSG Tiefbau Berlin umbenannten Mannschaft gelang im Jahr 1959 vor der punktgleichen BSG Motor Köpenick erstmals der Aufstieg in die zweite DDR-Liga. Die damals dritthöchste ostdeutsche Spielklasse konnten die Berliner bis zu ihrer Auflösung im Jahr 1963 mit überwiegend gesicherten Mittelfeldplätzen halten, konnten sich in der letzten Saison aber als Tabellensiebenter ebenso wie die Lokalrivalen EAB 47 Berlin, der SG Adlershof sowie Lufthansa Berlin nicht für die DDR-Liga qualifizieren. In den Spielzeiten 1961/62 und 1962/63 agierten die Berliner als SC Tiefbau Berlin, mussten aber die Bezeichnung Sportclub durch die zunehmende Bildung von Leistungszentren wie den SC Frankfurt oder SC Potsdam wieder ablegen. In der Folgezeit stieg Tiefbau Berlin in die viertklassige Bezirksklasse Berlin ab, aus welcher erst 1984 die Rückkehr in die höchste Ostberliner Spielklasse gelang.

Ende der 1980er Jahre konnte Tiefbau im Berliner FDGB-Bezirkspokal mehrere Erfolge feiern und erreichte von 1989 bis 1991 dreimal in Folge das Finale, welches 1990 und 1991 jeweils gewonnen wurde. Dadurch qualifizierte sich der Verein für den FDGB- bzw. DFB-Pokal.

Nach der Wende wurde der Verein in SV Blau-Gelb Berlin umbenannt und in die Landesliga Berlin integriert. In der Auftaktsaison, welche auch als Qualifikation zur Verbandsliga Berlin diente, verfehlte Blau-Gelb mit einem elften Rang den Aufstieg. In der Folgesaison stieg Blau-Gelb Berlin aus der Landesliga ab und verschwand in den Niederungen des Berliner Fußballs. Nach dem Aufstieg aus der Kreisliga in der Saison 2006/07 spielte Blau-Gelb fünf Jahre in der Bezirksliga, bevor 2012 die Rückkehr in die Landesliga gelang. Nach drei Jahren ging es 2015 zurück in die Bezirksliga.

In der Saison 2015/16 holten sich die Frauen des SV Blau-Gelb Berlin ungeschlagen den Berliner Meistertitel.

BATTAGLIA DI AGORDAT

La battaglia di Agordat fu una battaglia della seconda guerra mondiale combattuta ad Agordat in Eritrea dal 26 gennaio al 31 gennaio 1941. Rappresentò la fase iniziale della campagna dell’Africa Orientale Italiana e avvenne nella fase intermedia tra la conquista di Cassala e la battaglia di Cheren. Vide contrapposti gli schieramenti italiani e anglo-sudanesi.

Le truppe italiane in ritirata da Cassala attraversarono l’Eritrea occidentale per raggiungere le posizioni fortificate della linea Agordat Barentù. Nel corso della ritirata compiuta in stretto contatto con i britannici che tallonavano le forze italiane, numerosi furono gli scontri di retroguardia. In uno di questi scontri, al fine di ritardare l’avanzata nemica, si sacrificò il Gruppo squadroni amhara del tenente Amedeo Guillet. Il colonnello Orlando Lorenzini che aveva assunto il comando delle truppe italiane già nella fase di ripiegamento fece il possibile per rafforzare le difese di Agordat. Le forze italiane erano costituite da 10 battaglioni Àscari, un battaglione di Camicie Nere e dai resti dello squadrone di cavalleria amhara del tenente Amedeo Guillet. Ai reparti italiani si aggiunse anche una compagnia di marinai tedeschi che allo scoppio della guerra si erano trovati bloccati con la nave nel porto di Massaua. Il 26 gennaio 1941 i reparti italiani furono raggiunti dagli inglesi.

Le truppe inglesi si divisero in due tronconi: la Indian 4th Infantry Division, integrata dalla Sudan Defence Force, attraverso Keru raggiunse Agordat; la Indian 5th Infantry Division passò più a sud raggiungendo Barentù. La Indian 4th Infantry Division, del maggior generale Noel Beresford-Peirse, sottopose le difese italiane a un intenso bombardamento già il 26 gennaio. Allo stesso tempo l’aviazione sudafricana della Suid-Afrikaanse Lugmag riuscì a distruggere buona parte dei velivoli italiani ancora a terra negli aeroporti di Asmara e di Gura. Da questo momento le forze britanniche ottennero per tutta la durata del conflitto la supremazia aerea nell’Africa Orientale Italiana. Il 29 gennaio un attacco britannico, portato dai reparti indiani, portò alla conquista del monte Cochen, contro cui fallì il successivo contrattacco italiano. Il 31 gennaio si scatenò invece l’assalto definitivo contro le posizioni italiane, che inizialmente fu contenuto, ma in seguito infranse le difese. Nello sfondamento delle linee italiane furono determinanti per i britannici la superiorità numerica, il dominio incontrastato dei cieli e i nuovi carri armati Mk II Matilda che apparivano invulnerabili all’artiglieria italiana. Spesso le truppe italiane dovettero ripiegare disordinatamente per sfuggire al contatto con i carri armati inglesi..

Contemporaneamente scattò l’attacco britannico contro Barentù. Le truppe coloniali italiane al comando del generale Bergonzi, resistettero agli assalti e talvolta riuscirono a contrattaccare vittoriosamente. Alla notizia della caduta di Agordat ripiegarono ordinatamente verso Cheren il 2 febbraio disimpegnandosi dal nemico.

Le truppe britanniche si gettarono subito all’inseguimento dei reparti italiani ma dovettero arrestarsi presso il fiume Barca dove gli uomini del colonnello Orlando Lorenzini avevano provveduto a far saltare l’unico ponte e a minare il greto del fiume. A causa di questo ritardo gli italiani ebbero il tempo di ripiegare su Cheren, di fortificare l’area e di far saltare le vie d’accesso. Qui si verificò poi la decisiva battaglia di Cheren per il possesso dell’Eritrea.

Civili: Arco dei Fileni · Cinema Impero · Fiat Tagliero · Palazzo del Governatore di Asmara · Palazzo del Governatore di Mogadiscio · Palazzo del Governatore di Rodi · Palazzo del Governatore di Tripoli · Autodromo della Mellaha · Teatro dell’opera di Asmara · Faro “Francesco Crispi” · Villa Somalia · Stazione di Bengasi Centrale · Stazione di Tripoli Centrale · Stazione di Tripoli Riccardo

HIGH TIMES FREEDOM FIGHTERS

The High Times Freedom Fighters was a marijuana legalization group started by High Times Editor-in-Chief Steven Hager in 1987. The group was famous for marching into marijuana rallies dressed in psychedelic Colonial-style outfits while playing drums. They injected some life into what had become a slowly dying legalization movement. They forged a new generation of activists, and created a number of events around the country, the largest being the Boston Freedom Rally, which drew 100,000 people to Boston Common in the 1990s. The Freedom Fighters published a national newsletter for four years edited by Linda Noel (who also founded the Boston Freedom Rally). The Freedom Fighters also created free kitchens at the summer National Rainbow Family Gatherings, and the winter Regional Gatherings in Ocala, Florida.

In 1990, High Times released the documentary film Let Freedom Ring, detailing the activities of the group. The film was directed by Bob Brandel and featured music by the original Soul Assassins. In 1993, the mailing list was given to the NORML and the organization was disbanded. Members of the group went on to create The Cannabis Action Network and The Green Panthers, among other groups. Even after the group disbanded, High Times continued to name a Freedom Fighter of the Month in every issue of the magazine, as well as an annual Freedom Fighter of the Year, who was always crowned at the Cannabis Cup in Amsterdam.

A partial history:

According to Steven Hager’s Myspace blog:

John Howell hired me as High Times executive editor around 1987. For amusement I started writing a column called “Ed Hassle” in the news section. The column was a parody of “Ed Anger,” a hilarious right-winger who was appearing in the Weekly World News. Ed Anger columns were being read over the airwaves by my favorite deejay, Bill Kelly of WFMU. But instead of being a rightwing lunatic, my Ed Hassle was a hippie fascist who grew pot and believed in alien abductions. I eventually worked the concept into a cartoon strip drawn by Flick Ford. One day High Times got an invitation to the Hash Bash in Ann Arbor, Michigan. Apparently the event was about to die, and some local stoners were hoping High Times could help resurrect it. Ed Hassle made a plea for all marijuana activists to attend the Hash Bash in Ann Arbor to hold a convention to create a national group called the Freedom Fighters. Hassle suggesting bringing drums and dressing in Colonial-style outfits. (This was a publicity ploy for news cameras and opened the door for interviews about hemp in Colonial times.) My band, The Soul Assassins, drove to the event in a psychedelic bus, marched into the Diag at the University of Michigan with a fife and drum corps of psychedelic pirates. That night, the Soul Assassins performed to a standing room crowd at a local bar. The Freedom Fighters organized free campgrounds for many rallies and provided free food to activists. The biggest supporter was a West Virginian named Rodger Belknap, who was also the first person to be voted Freedom Fighter of the Year. Eventually it became clear the group had been targeted for surveillance and many leaders dropped out while others were railroaded into jail with unusually harsh sentences, including Rodger Belknap.

After the Freedom Fighters were about a year old, I decided to drop the “Ed Hassle” persona because it had gotten confused with another High Times columnist, Ed Rosenthal. In order to re-write the history off the origins of the group, I asked my friend Allegra to interview me for my own magazine. Unfortunately, the interview was perceived as signs of a messianic power trip and very quickly led to serious problems. I’d naively set out to throw a party and suddenly found myself in the center of a cultural tidal wave. The pressure got so intense I turned the Freedom Fighter mailing list over to NORML, and that was the end of the Freedom Fighters and also the end of any attempts at political activism or organizing.

CYANOSTAR

cyanostar (pentacyanopentabenzo[25]annulene) is a shape-persistent macrocycle that binds anions.

The cyanostar structure is synthesized in a one-pot process among five equivalents of a benzaldehyde bearing a meta-cyanomethyl substituent. A series of Knoevenagel condensation reactions catalyzed by various bases stitches them together to make the C5-symmetric structure.

Cyanostar binds anions through hydrogen bonding from the C–H hydrogen bonds, as the hydrogen has a slight positive charge. It is the first binder to make use of cyanostilbene’s electropositive CH groups. The hydrogen bonds create an electropositive region in the center of the macrocycle, creating a binding pocket. Cyanostar strongly binds anions that usually can only be bound weakly. The increased binding arises from the formation of a 2:1 complex, with two cyanostars sandwiching the anion on each side. An extended version of this structural pattern is a 4:3 alternating stack of cyanostar molecules complexing a hydrogen-bonded chain of dihydrogen phosphate units.

Two cyanostars can be threaded onto a phosphate diester structure, forming a rotaxane. Because they have a high affinity for the central phosphate group only when it is in its anionic form, there is a substantial and reversible structural change in response to acid–base changes in solution.

SOPHUS KAHRS

Sophus Buck M. Kahrs (ur. 28 marca 1918 r., zm. 18 listopada 1986 r. w Buenos Aires w Argentynie) – członek partii Nasjonal Samling, dowódca Førergarden pod koniec II wojny światowej.

W 1934 lub 1935 r. wstąpił do faszystowskiej partii Nasjonal Samling. W 1940 r. został zmobilizowany do norweskiej armii i uczestniczył w walkach z Niemcami w kwietniu-maju tego roku. Po zajęciu Norwegii przez niemieckie wojska podjął kolaborację z okupantami. W 1941 r. wstąpił ochotniczo do Ochotniczego Legionu Norweskiego, wysłanego na front wschodni do walki z Sowietami. Był dowódcą plutonu, a od 1942 r. – 1 kompanii w stopniu SS-Untersturmführera. We wrześniu 1943 r. objął dowództwo 1 kompanii w SS-Schijägerbataillon “Norwegen” w stopniu SS-Obersturmführera. Od czerwca 1944 r. dowodził SS-Skijegerbataljon “Norge”. W lipcu odznaczono go Żelaznym Krzyżem 1 klasy. Od stycznia 1945 r. do końca wojny stał na czele Førergarden, czyli straży przybocznej przywódcy Nasjonal Samling Vidkuna Quislinga. Po kapitulacji Niemiec 9 maja 1945 r., został osadzony w obozie jenieckim w Bergen. Udało mu się zbiec i przedostał się w 1947 r. do Brazylii, a następnie do Argentyny, gdzie zmarł w 1986 r.

CANNE DE COMBAT

La canne de combat est un sport de combat français de percussion. Il se pratique à l’aide d’un objet contondant, la canne, un bâton de châtaignier de 95 cm de long avec lequel le « tireur » doit toucher son adversaire sans être lui-même touché.

Les premières traces écrites de théorie concernant la manipulation de cannes et bâtons en Occident remontent à la fin du Moyen Âge. La canne de combat ne commence toutefois à être perfectionnée qu’au milieu du XIXe siècle : plusieurs maîtres d’armes élaborent des méthodes, et la canne connaît son apogée à cette période, au point qu’elle figure aux programmes des concours d’exercices physiques et de sports de l’Exposition universelle de 1900 puis comme sport de démonstration aux Jeux olympiques d’été de 1924. Avec l’amélioration de la sécurité de Paris, sa pratique décline. Dans les années 1950, une pratique de la canne de combat destinée au sport et à la compétition est développée par Maurice Sarry sous l’égide de la Fédération de savate boxe française, et c’est sous cette forme qu’elle est pratiquée de nos jours.

Le répertoire technique de la canne de combat comprend six attaques codifiées, qui ciblent le flanc, la tête ou les jambes de l’adversaire. Chaque attaque doit être précédée d’un « armé », mouvement qui amène la main tenant la canne derrière l’axe de la colonne vertébrale ; cet armé, qui était historiquement destiné à augmenter la puissance des coups, donne une information à l’adversaire, et, par la dimension tactique qu’il donne aux assauts, constitue toute la richesse de la discipline dans sa pratique actuelle. Le combat se déroule dans une aire circulaire de 9 mètres de diamètre, et est divisé en plusieurs périodes (« reprises ») d’une à deux minutes durant lesquelles chaque tireur doit porter le plus de touches possible. Les assauts ont lieu sous la supervision d’un arbitre et sont notés par trois juges.

Ce sport compte son plus grand nombre d’adeptes en France, mais il est aussi pratiqué ailleurs dans le monde. Sa pratique compétitive est organisée en France par le Comité national de canne de combat et bâton depuis 1979. Des compétitions internationales sont organisées depuis 2004 telles que le championnat du monde et le championnat d’Europe.

L’utilisation de la canne ou du bâton comme objet de défense est très ancienne ; toutefois, en Occident, les premiers écrits évoquant une forme d’escrime propre au bâton remontent à la fin du XIVe siècle et au XVe siècle. Il faut attendre le XVIe siècle pour voir émerger des traités théorisant la manipulation du bâton, notamment avec Der Altenn Fechter anfengliche Kunst (1531) et La noble science des joueurs d’épée (1538). Le bâton est pratiqué et enseigné par les maîtres d’armes de Paris jusqu’en 1644, où sa pratique devient facultative, entraînant son déclin. L’art de manier la canne a été maintenu par les compagnons, pour lesquels la canne constitue non seulement un symbole, mais joue également un rôle défensif, notamment au cours de batailles entre sociétés concurrentes, au point que de nombreux compagnons ont recours à des maîtres d’armes pour s’exercer au maniement de leur canne.

Au début du XIXe siècle, la canne a mauvaise réputation. Elle est en effet pratiquée, à l’instar de la savate, par des bandes criminelles ; cependant, avec l’interdiction de porter l’épée à Paris sans permis de port d’arme, le milieu du XIXe siècle voit progressivement l’apparition de salles d’armes dédiées à la savate et à la canne, attirant petit à petit la bonne société. La canne de combat est alors codifiée par des maîtres de savate et de sabre afin que de l’enseigner comme arme de défense. Plusieurs traités voient le jour, tout d’abord celui de Louis Leboucher (1843), puis celui d’un élève de Michel dit « Pisseux » (vers 1848). Une méthode plus aboutie, faisant appel à des mannequins, est élaborée par Larribeau en 1856. C’est la grande époque pour la canne de combat française ; des combats sont montrés dans les salons. En parallèle, l’armée française introduit l’enseignement collectif du bâton et de la canne et publie un nombre important de manuels intégrant leur usage, souvent associé à la boxe française, comme le traité de Bouffémont en 1871, celui du Ministère de la marine et des colonies en 1875, puis celui de P. Le Guénec en 1886 et celui de Bonnefont en 1890. De même, à partir de 1880, l’enseignement de la canne de combat est dispensé dans le milieu scolaire, avec notamment un manuel publié en 1892 qui prévoit des exercices de canne. Entre la fin du XIXe siècle et le début du XXe siècle, la pratique de la canne de combat se développe dans d’autres pays d’Europe : Pierre Vigny crée sa méthode et en répand l’enseignement au Royaume-Uni, contribuant au perfectionnement du bartitsu, l’exil de Joseph Charlemont à Bruxelles est à l’origine de l’essor de la canne en Belgique.

Enfin, Charlemont publie en 1899 un traité qui codifie une pratique de la canne plus sportive ; les démonstrations de canne aux Jeux olympiques de 1900 (bien que la première codification de la pratique compétitive de la canne de combat ne soit élaborée qu’en 1903) et aux Jeux olympiques de Paris en 1924 (voir Savate aux Jeux olympiques d’été de 1924) sont basées sur sa méthode. La canne est beaucoup pratiquée au début du XXe siècle : elle fait notamment partie de techniques enseignées aux Brigades du Tigre (entre 1907 et 1921), et elle reste un moyen de défense pour se protéger dans la rue, dans un contexte de grande insécurité (notamment face à des bandes de criminels, comme les Apaches). Cependant, la sécurité des rues de Paris s’améliore vers 1920, et la canne devient davantage un article d’apparat ; la pratique de la canne de combat est délaissée. D’autres sources évoquent également le manque d’instructeurs à la suite de la Première Guerre mondiale et l’abandon du sabre dans l’armée.

La pratique de la canne sportive réapparait dans les années 1950 avec la méthode de Roger Lafond, discipline enseignée au sein de la Méthode R.&J. Lafond, qui propose une approche axée vers la self-défense, dont les armés sont plus courts, partant du poignet et de l’avant-bras. C’est cependant dans les années 1960 que la pratique sportive contemporaine de la canne de combat est mise en place, d’abord par la création du Comité national de boxe française en 1965 par Pierre Baruzy, puis par les ouvrages de Bernard Plasait en 1971 et de Maurice Sarry en 1978 ; la méthode de ce dernier, plus orientée vers une pratique compétitive et éliminant les coups dangereux, prévoit des règles d’arbitrage et codifie les mouvements. La première compétition de canne de combat selon la méthode de Maurice Sarry se tient en 1979. Sarry crée le Comité national de canne de combat et bâton (CNCCB) en 1983 ; cette organisation, sous l’égide de la Fédération française de savate boxe française et disciplines associées, règlemente la pratique sportive actuelle de la canne de combat.

La canne de combat est un sport de combat qui oppose deux adversaires, dénommés « tireurs », dans un espace défini, « l’aire de combat », et dans un temps défini, « la reprise ». La confrontation se fait à l’aide d’une canne et d’un répertoire donné d’attaques. Cette discipline amène le tireur à manier la canne à travers des mouvements physiques, techniques et tactiques : enchaînements, esquives, feintes, sauts, touches et acrobaties.

Le pratiquant de la canne de combat est parfois appelé « canniste ».

On distingue deux types de confrontations : les assauts compétitifs, où les tireurs cherchent à se toucher sans l’être en retour, et les assauts démonstratifs, où la recherche de la coopération prime.

Telle qu’elle a été codifiée dans les années 1970, par Maurice Sarry, pour être pratiquée en compétition sportive, la canne de combat est légère, en châtaignier et de forme légèrement tronconique.

Elle a une longueur de 95 cm pour un poids de 90 à 130 g et est composée de trois parties qui sont de la base au sommet : la manchette (premiers 15 cm), la surface de parade et la surface autorisée de touche (20 derniers centimètres).

Il est possible d’ajouter un adhésif antidérapant sur la manchette. Des adaptations de l’arme sont prévues pour les mineurs selon leur tranche d’âge, que ce soit par la longueur de l’arme (85 ou 90 cm) ou par l’usage de cannes en mousse.

En France, le développement de la canne de combat est organisé par le Comité national de canne de combat et bâton (CNCCB), au sein de la Fédération française de savate boxe française et disciplines associées. Au niveau international, les différentes compétitions ont lieu sous l’égide de la Fédération internationale de savate.

La richesse de ce sport vient de la diversité des coups, des multiples façons de les réaliser et de la liberté de l’expression de ces techniques, que ce soit dans les déplacements ou les enchaînements. Décalages, esquives, sauts, voltes (mouvements tournants), feintes, font partie intégrante des assauts de canne avec pour finalité la touche. La liberté de mouvement autorisée permet à chaque canniste d’acquérir son propre style.

Il existe six attaques codifiées en canne de combat. Deux coups latéraux, le « latéral extérieur » et le « latéral croisé », peuvent être portés sur trois surfaces de frappe : la figure (ou ligne haute), qui comprend l’ensemble du visage, le côté et le dessus du crâne ; le flanc (ou ligne médiane), situé entre le nombril et les pectoraux ; et les jambes (attaque en ligne basse), entre la cheville et le genou. Deux coups verticaux peuvent être portés en tête : le « brisé » et le « croisé tête ». Enfin, deux coups verticaux ont pour cible les jambes : l’« enlevé » et le « croisé bas » (ou croisé jambe).

Ces six techniques peuvent se faire de l’une ou l’autre main, ou en changeant la canne de main dans le cadre de l’assaut, constituant ainsi un élément de surprise, de diversité tactique et technique. Seules ces techniques sont autorisées en compétition, à l’exclusion de toute autre.

Les surfaces de frappes décrites ci-dessus sont les seules autorisées. Les attaques ciblant la jambe doivent être accompagnées par l’attaquant d’une fente avant ou arrière, d’une flexion ou d’un grand écart.

Les touches doivent se faire avec le quart supérieur de l’arme, de taille, les coups d’estoc n’étant pas autorisés.

Pour être valide, chacun de ces coups doit être précédé d’un « armé », geste qui consiste à passer la main tenant la canne derrière l’axe de la colonne vertébrale. Si historiquement, l’armé consistait à donner de la puissance aux coups, ce n’est plus l’objectif de nos jours. L’armé présente l’inconvénient de donner une indication à l’adversaire, tout en exposant le corps du tireur, mais c’est justement cet inconvénient qui fait la richesse de la discipline, car il amène le tireur à rechercher des enchaînements plus poussés dans le but de surprendre son adversaire.

Ceci fait partie de ce qu’on appelle le « premier degré », il s’agit d’exécution simple des techniques.

Au début et à la fin de chaque assaut, chaque tireur effectue un salut, qui consiste en la réalisation successive d’un « enlevé » et d’un « croisé-bas ».

La garde est la position dans laquelle le tireur débute l’assaut. En garde conventionnelle, le pied du côté de la main armée se situe en avant, et est dirigé vers l’adversaire. L’autre pied est orienté à 45° par rapport au premier et situé à une distance d’environ un pied en arrière. Les jambes sont légèrement fléchies, assurant dynamisme et équilibre.

La garde opposée s’effectue en mettant en avant le pied opposé à la main armée.

Il est obligatoire de se défendre contre une attaque portée par son adversaire avant de pouvoir riposter. Il existe deux modes de défense codifiés : la parade et l’esquive.

La parade consiste à interposer sa canne pour interrompre l’attaque adverse. Les parades chassées et les désarmements sont interdits. La parade totale, qui couvre trois zones de touche en même temps, n’est pas autorisée en compétition.

Les esquives consistent à soustraire à l’attaque la cible de celle-ci. L’esquive peut se faire sur place en effectuant un mouvement de retrait de la zone ciblée, ou peut amener le tireur à déplacer un appui ou à se déplacer complètement (on parle alors d’esquive totale).

Ces modes de défense sont généralement plus performants lorsqu’ils permettent d’engager une riposte en préparant l’armé du coup suivant pendant le mouvement de défense.

L’assaut se déroulant traditionnellement dans un cercle de 9 mètres de diamètre (ou 6 mètres pour les enfants), le mouvement est un élément central de la tactique. Les déplacements peuvent se faire au cours d’esquives, ou pour contourner l’adversaire (« décalages » et « débordements »). En plus de ces déplacements simples, deux mouvements particuliers sont possibles : la volte et la traversée.

La volte est un mouvement de rotation sur soi qui a l’avantage de troubler les repères et les cibles et de rendre l’attaque qui la finit plus imprévisible. L’attaque, en plus d’être moins prévisible, peut être également accélérée par la volte.

La traversée est un mouvement qui amène à passer très près de son adversaire pour se retrouver derrière lui ; elle doit obligatoirement se terminer par une attaque.

La simple exécution des attaques codifiées (premier degré) est inefficace car l’information donnée par l’armé permet à l’adversaire de préparer sa défense. Le but du second degré est de perturber l’adversaire afin de lui faire modifier sa garde pour toucher la zone voulue. Diverses tactiques peuvent être utilisées pour cela, et constituent des mouvements du second degré ; elles comprennent entre autres les moulinets, les feintes comme les changements d’armés, les changements de main, les changements de vitesse ou de plan, les déplacements modifiant l’axe de combat, etc.

Différentes tenues sont possibles en fonction du contexte. Dans le cadre d’une pratique de loisir, la tenue se compose simplement de chaussures de sport et de survêtements. Lors d’échanges en club ou pour les compétitions de juniors jusqu’à 12 ans, les tireurs utilisent tenue simplifiée, composée d’un masque d’escrime matelassé, d’une paire de gants matelassés et d’une paire de protège-tibias. La tenue de compétition comporte plus de protections : en plus de la tenue simplifiée, elle comprend une veste et un pantalon tous deux matelassés ainsi qu’une coquille pour les hommes et un plastron pour les femmes.

Le port de protections supplémentaires est autorisé : genouillères, coudières, protège-malléoles, protection du cou, ou encore protection pelvienne pour les femmes.

Le Comité national de canne de combat et bâton (CNCCB) a mis en place un système de grades permettant d’évaluer la progression technique des sportifs en canne de combat. Le premier niveau, pour les débutants, est le pommeau bleu, qui atteste de la connaissance du répertoire technique. Le deuxième niveau, ou pommeau vert, évalue la mise en œuvre des techniques en situation de coopération, tandis que le pommeau rouge (troisième niveau) démontre l’acquisition des techniques dans un contexte tendu d’opposition. L’accès à la compétition n’est autorisé qu’aux détenteurs du pommeau rouge. L’évaluation de chacun de ces trois pommeaux dure une vingtaine de minutes et peut s’effectuer en club. Deux niveaux supérieurs peuvent être passés ensuite sous la supervision d’un représentant du CNCCB : le pommeau blanc, qui évalue la gestion de l’opposition et des premières tactiques (second degré) de perturbation de l’adversaire, et le pommeau jaune pour lequel le canniste doit être capable de mettre en œuvre un bagage technique et tactique complet pour prendre l’avantage lors d’une opposition. L’épreuve d’évaluation de chacun de ces pommeaux dure une quarantaine de minutes.

Les assauts en compétitions sont composés de 2 à 4 reprises en fonction des compétitions et des différentes phases. La durée varie en fonction des catégories, entre une minute et demie et deux minutes. Chaque touche réussie sur l’adversaire fait gagner des points.

Les combats se déroulent dans un cercle de 9 mètres de diamètre. Si un des tireurs sort de ce cercle, le combat est interrompu et un point est accordé à son adversaire.

L’assaut n’est pas interrompu après une touche (on peut donc les enchaîner). Le principe de parade riposte empêche les tireurs de se sacrifier pour accumuler les touches en reposant uniquement sur la vitesse d’exécution.

Celui qui a le plus de points à l’issue de la dernière reprise est déclaré vainqueur.

L’assaut est découpé en reprises. Le nombre et la durée de ces reprises varient selon les rencontres. Les valeurs de références sont au maximum de 4 reprises d’une durée allant d’une minute et trente secondes à deux minutes.

Avant les reprises et à la fin de l’assaut, au commandement de l’arbitre, les tireurs se saluent.

Au début de chaque reprise, au commandement de l’arbitre, les tireurs se positionnent en position de garde au centre de l’aire. Au commandement « En garde, Allez ! », la reprise commence. En dehors des interruptions pour irrégularité, l’assaut durera jusqu’au commandement « Stop ! Fin de la reprise » de l’arbitre.

Trois juges assurent le décompte des points. Chaque juge comptabilise indépendamment des autres les touches qu’il estime valides. Les points comptabilisés par chaque juge sont ensuite additionnés ; chaque touche va ainsi rapporter de 0 à 3 points, en fonction de sa qualité et de la perception des juges. Les juges interviennent également pour valider ou non les demandes d’avertissements, prendre des décisions en cas d’égalité ou se prononcer en cas de demande d’avertissement.

Pour encadrer l’assaut, un arbitre intervient en cas de faute technique ou tactique. Il délivre selon la situation une observation, une pénalité ou une demande d’avertissement. Cette dernière doit alors être validée par vote par les juges. C’est également lui qui encadre le temps de l’assaut, en indiquant le début et la fin des reprises.

Au cours de l’assaut, les juges doivent évaluer si une touche portée par un tireur est valide. Pour cela, la touche doit répondre à plusieurs critères.

Tout d’abord, le tireur doit avoir respecté le principe parade/esquive – riposte, c’est-à-dire qu’il doit avoir évité ou paré le coup de son adversaire pour pouvoir le toucher. Un autre principe à respecter est le principe de priorité, la priorité allant au tireur ayant atteint la position d’armé en premier.

Sur la forme de la touche, il faut que le coup ait été armé (le pommeau de la canne doit être passé derrière l’axe de la colonne vertébrale) et corresponde à l’une des six techniques codifiées, et que le tireur ait déployé sa technique de façon franche, avec un alignement de l’épaule, de la main et de l’extrémité de la canne au moment de la touche ; de plus, la canne doit avoir suivi une trajectoire dans un plan horizontal ou vertical en fonction du coup. D’autre part, la touche doit avoir été donnée sur une surface autorisée en compétition : les côtés et le dessus du masque ainsi que la grille (si le coup est clairement dirigé vers le visage, et ne fait pas que frôler la grille) pour un coup en tête, au-dessus de la ceinture et en dessous des pectoraux pour un coup en flanc, et au-dessus de la cheville et en dessous du genou pour un coup en jambe. Une touche ne sera comptabilisée que si elle est donnée avec la surface de touche de la canne (quart supérieur). Enfin, les coups en ligne basses doivent être accompagnés d’une fente ou d’une flexion.

Les coups d’estoc sont proscrits et sanctionnés.

Les juges sont responsables de comptabiliser les points. Un tireur se voit attribuer un point pour chaque touche valide. Par contre, chaque pénalité rapporte un point à son adversaire, qu’elle soit prononcée pour un lâcher de canne, une sortie d’aire, un retard à l’appel ou un constat d’équipement incomplet ; de plus, chaque avertissement demandé par l’arbitre et validé par vote par les juges rapporte deux points à l’adversaire.

La canne de combat est bien développée en France, même si elle y reste un sport relativement confidentiel (environ 4 000 licenciés, mais jusqu’à 10 000 cannistes). Sa pratique est fortement implantée à La Réunion depuis 1989.

Ce sport est également pratiqué en Italie, en Belgique, aux Pays-Bas, en Espagne et aux États-Unis. Par ailleurs, les premiers championnats du monde de canne de combat attirent des tireurs du Canada, du Royaume-Uni, d’Allemagne, de Slovénie, de Madagascar, de Maurice, des Comores et de Serbie. La Corée du Sud, la Hongrie et la Suède sont également intéressées.

La codification de la canne de combat datant des années 1970, l’historique des compétitions est relativement récent. La première compétition sous sa forme contemporaine a été organisée en 1979, à Paris. Il faut attendre 2004 pour voir apparaître la première compétition internationale, le championnat du monde de canne de combat. La première édition des championnats d’Europe est organisée en 2006.

Le CNCCB a élaboré des règles spécifiques pour pouvoir faire de la canne un handisport.

En France, le CNCCB organise quatre compétitions nationales :

En dehors des compétitions organisées par le CNCCB, des compétitions officielles locales ont lieu de manière régulière. Parmi ces compétitions officielles, certaines sont dédiées aux assauts en équipe, comme le Miladiou, à Figeac, depuis 2003, les TiTis Parisien, à Paris, depuis 2005, et le Bazhataeg, à Quimper, depuis 2005.

Les compétitions par équipes peuvent se dérouler en assauts individuels ou en relais. Dans le cas d’assauts individuels, les résultats des membres de l’équipe sont additionnés. Au cours des compétitions en équipe en relais, toutes les minutes, un arrêt de jeu permet de permuter le tireur présent dans l’aire avec un autre membre de l’équipe.

D’autres compétitions locales et inter-clubs sont aussi régulièrement organisées.

Il existe deux compétitions internationales régulières de canne de combat : le championnat du monde, depuis 2004, et le championnat d’Europe, depuis 2006.

L’objectif du CNCCB est de promouvoir une rotation de ces championnats pour assurer une compétition internationale tous les deux ans. Les compétitions internationales sont organisées par la Fédération internationale de savate.

Mis à part ces championnats dédiés à la canne, la discipline a été représentée aux Jeux mondiaux des sports de combat 2013 (prix remporté par Benjamin Latt en canne de combat). Enfin, si la canne a effectivement été présente aux Jeux olympiques de 1900 et aux Jeux olympiques de Paris en 1924 en tant que sport de démonstration, cette situation ne semble pas devoir se renouveler.

La canne de combat est naturellement associée au bâton fédéral : long de 140 cm, pesant environ 400 g, il se tient à deux mains. Les règles et techniques des coups et les surfaces autorisées respectent la méthodologie des techniques et le règlement d’arbitrage de la canne de combat, et il est également développé par le CNCCB, qui organise sa pratique compétitive.

D’autres disciplines liées à la canne de combat sont parfois enseignées en club, comme la canne-chausson, qui mêle les techniques de canne de combat et les techniques de pieds de la boxe française, ou la double canne, qui repose sur les mêmes fondements que la canne, mais avec une canne dans chaque main. Le CNCCB met également en avant la canne de défense, dont les techniques sont reprises, empruntées et adaptées de diverses disciplines anciennes ou modernes, et où l’objectif n’est pas sportif mais plutôt une recherche d’efficacité pour se défendre ou défendre autrui lors d’une éventuelle altercation. Enfin, la méthode R.&J. Lafond comprend une forme particulière de canne nommée le panache.

Il existe de nombreuses autres disciplines utilisant des cannes ou des bâtons, dans la plupart des cultures, sans pour autant qu’elles soient issues de la canne de combat. On peut cependant en rapprocher certaines de la canne de combat, comme le système Bartitsu d’Edward William Barton-Wright, ou le lathi (en) codifié par H. G. Lang en 1923, car elles ont été influencées par les travaux de Pierre Vigny au début du XXe siècle.

La littérature du XIXe siècle reflète l’usage de la canne comme moyen de défense. C’est le cas notamment dans Les Mohicans de Paris d’Alexandre Dumas ou dans Les Mystères de Paris d’Eugène Sue. En effet, ces deux auteurs étaient férus de canne de combat.

Au-delà de la fiction, de nombreux auteurs ont été témoins de l’âge d’or de la canne au XIXe siècle. Simone de Beauvoir évoque son grand-père pratiquant la canne en tant que sport dans Mémoires d’une jeune fille rangée. Théophile Gautier décrit l’ambiance des salles d’armes et fait même référence au moulinet de canne nommé « la rose couverte » ; Ernest Feydeau y fait également allusion.

La canne de combat apparaît dans la littérature contemporaine, comme par exemple dans Canne de fer et Lucifer de Léon Maret.

Les œuvres cinématographiques mettant en lumière la canne de combat ont souvent pour cadre l’âge d’or de la canne (entre le XIXe siècle et le début du XXe siècle). Les exemples ci-après reflètent bien cela :

Sur les autres projets Wikimedia :